Wednesday, January 7, 2015

Perlukah bersikap konsisten?

Hari ini, ketika seseorang menanyakan apa yang membuat fisika sangat sulit diajarkan adalah 'kebanyakan siswa tidak mengerti fisika dasar'. Tahukah kamu, satu-satunya rahasia untuk menguasai fisika adalah benar-benar menguasai fisika dasar, Ketika menemukan kelemahan pada pemahaman kamu mengenai hal dasar segeralah mengambil tindakan, Pelajari hal-hal mendasar secara tertib. Pahami benar setiap lubang yang kamu isi dan juga wilayah di sekitarnya. Sudahkah kamu memahami hal dasar? Jika sudah maka pertanyan selanjutnya adalah: 'Apakah guru/dosen ataupun pihak pengases manapun telah melakukan penilaian yang tepat atas kemampuan dirimu ?'
Faktanya adalah setiap keputusan yang diambil si pengases akan mempengaruhi masa depan orang lain yang diasesnya. Berikut pengalaman yang saya alami ketika mengikuti salah satu mata kuliah di semester 3. Sebut saja mata kuliah X. 

Mata kuliah ini terdiri dari empat kali ujian. Kami tidak menyebutnya sebagai UTS dan UAS, melainkan Ujian 01, 02, sampai dengan ujian 04. Kesemua ujian ini memiliki bobot yang sama besar dan akan mempengaruhi nilai akhir sebesar 60%, sementara sisanya akan dipengaruhi oleh nilai tugas. Sangat menyenangkan mengikuti kuliah ini. Selain karena dosennya yang sangat luar biasa cerdas,  juga karena sistem penilaian yang dilakukan beliau sangat transparan. Hal ini sangat membantu mahasiswa mengetahui titik kelemahan yang dimiliki.

Wajarkah protes ketika kita menjadi pihak yang dirugikan? Jawabannya adalah Ya. Karena sebagai siswa kita memiliki hak untuk mengetahui bagaimana hasil penilaian yang dilakukan dan bagaimana kita diases. Bahkan akan sangat fair jika rubrik penilaian diberikan di awal agar setiap orang mengetahui batasan-batasan yang harus dimiliki. 

Pada mata kuliah pengambangan evaluasi pembelajaran menekankan bahwa antara tujuan pembelajaran, aktivitas pembelajaran, hingga asesmen pembelajaran yang dilakukan merupakan proses yang tidak dapat dipisahkan. Dalam proses asesmen itu sendiri, dibutuhkan rubrik penilaian yang jelas dan konsisten sehingga dapat membedakan mana siswa yang memahami pelajaran dan yang tidak.

Cerita ini bermula dari penyerahan lembar jawaban ujian 02 yang telah dikoreksi. Hasil yang diperoleh alhamdulillah cukup memuaskan. Secara rata-rata kelas saya memperoleh nilai bagus. Namun terdapat hal ganjil pada beberapa poin ujian yang dinilai dengan cara yang tidak fair menurut saya. Untuk beberapa poin penilaian misalnya, dimana seorang siswa yang menjawab soal dengan benar dilengkapi dengan gambar dan penjelasan yang tepat diberi poin 8. Sementara pada mahasiswa lain, gambar dan penjelasannya salah juga diberi poin 8. Bahkan ada juga mahasiswa lainnya yang tidak membuat gambar sama sekali dan tanpa memberi penjelasan malah diberi poin 7. Pertanyaannya adalah, proses penilaian sepertia apakah yang dilakukan sehingga tidak dapat membedakan jawaban yang salah dan jawaban yang benar dengan pemberian bobot poin yang sama besar. Akhirnya kita semua bersyukur atas penilaian yang cukup memuaskan pada ujian 02 itu. Bahkan kita amat sangat sadar dengan adanya keganjilan pada sistem penilaian yang dilakukan. 'Gapapalah, kita kan ga  dirugikan. Anggap aja keberuntungan' katanya.
Namun saya tidak sependapat dengan mereka mengenai hal ini. Okelah saat ini kita menjadi pihak yang diuntungkan, bagaimana kalo suatu saat nanti kita menjadi pihak yang dirugikan?. Dan hal yang saya takutkan ini pun akhirnya benar-benar terjadi di ujian selanjutnya.

Pada ujian 03 dan ujian 04 saya mencoba menguji keberuntungan yang saya miliki dengan belajar sealakadarnya, tidak seperti pada ujian-ujian sebelumnya yang penuh persiapan.  Bahkan sehari sebelum ujian 04, saya menempuh lari pagi sejauh 10 kilo di Taman Hutan Raya yang memakan waktu lebih kurang 4 jam. Alhasil badan cape-cape maksimal setelahnya. Hal ini disebabkan karena saya mengamati proses penilaian yang dilakukan sangat tidak akurat karena jawaban yang salah saja dibenerin, jadi kenapa saya harus takut salah sementara jika saya dapat menjawab benar. 

Dua minggu kemudian hasil ujian keluar. Dan saya hanya mendapat nilai kisaran 22% dari skor maksimum. Jleb banget rasanya. Sakit nya tuh disini kalo kata Cita. Sekalinya ga belajar nilai malah terjun bebas. Hancurlah harapan dapet Hair inStyler.hehe.. Yah walaupun dapet nilai rendah, namun saya cukup pede dengan jawaban yang saya berikan. Tapi hasil ujian kok bisa sampe terjun bebas kayagitu. Dengan penuh keberanian, saya menghubungi dosen yang bersangkutan mengenai hasil ujian dan menanyakan apakah saya bisa melihat lembar jawaban ujian saya untuk mengetahui dimana letak kesalahan yang saya perbuat. Dan alhamdulillah beliau menjawab iya.

Keesokan harinya saya menemui beliau. Beliau cukup terbuka untuk protes asalkan disertai dengan argumen yang kuat. Lembar jawaban saya saya terima, lalu saya periksa, Sangat mengejutkan. Saya mendapati ada beberapa jawaban yang tidak diberi nilai. Saya mencoba untuk berpikir logis. Saya bandingkan jawaban saya dengan beberapa jawaban teman. Hal mengejutkan dan mengecewakan saya muncul. Ternyata jawaban teman saya tidak menyertai gambar dan penjelasan yang benar malah diberi poin 9. Sementara punya saya yang menyertakan gambar dan penjelasan sama sekali tidak diberi nilai. Hal ini menjadi tanda tanya besar. Hal yang saya takutkan ternyata benar-benar terjadi. Sistem penilaian kali ini sangat merugikan saya. Saya tanyakan kepada beliau mengapa hal seerti ini dapat terjadi. Ternyata pengoreksian ujian 02, 03, dan 04 ini bukan dilakukan oleh beliau. Melainkan orang lain.

Alhamdulillah beliau menerima protes. Setelah saya menjelaskan hambatan yang saya hadapi, beliau akhirnya merevisi nilai. Dan beberapa teman yang dirugikan lainnya pun juga protes kemudian juga ditindaklanjuti.

Sebuah hal menarik ada di pikiran saya saat ini. Jika kantor polisi merupakan tempat untuk melaporkan segala bentuk kerugian yang dialami, akankan manusia akan melakukan hal yang sama jika mengalami keberuntungan? Seperti halnya uang kembalian jika berbelanja ke supermarket. Jika uang kembalian yang didapat kurang dari semestinya tentu kita akan protes dan meminta hak kita. Namun apakah jika uang kembalian yang kita dapat malah berlebih dari seharusnya, apakah kita akan berbesar hati untuk melaporkan dan mengembalikan?  syukur-syukur si pihak supemarketnya menjawab, 'itu rejeki kamu, Nak'. 

Saya sadar bahwa tidak mudah melakukan proses penilaian yang benar-benar adil dan objektif. Itu mengapa sebaiknya penilaian yang dilakukan harus bersifat transparan. Karena kesempurnaan yang kita buat, belum tetu sempurna dan tepat bagi orang lain. Tapi yang perlu diingat, jangan sampai proses penilaian merugikan pihak lain. Karena setiap orang berhak mendapatkan apa yang pantas mereka peroleh, dan hal ini sebanding dengan usaha yang merka lakukan.

Dan jika kamu sebagai pihak yang diases, dapatkah kamu menjadi pribadi yang jujur dan konsisten terhadap apapun hasil yang keluar. Beranikah kamu mengaku dan melapor salah di saat kamu dianggap benar, sama halnya seperti kamu berani mengaku dan melapor benar di saat kamu dianggap salah? Wassalam.


Shinta Faramita
Bandung, 08 Januari '15
(di tengah gejolak proposal thesis)


Wednesday, November 12, 2014

Bahan Renungan Sisa Ujian Kedua Fisika Modern

Soal ujian 02 Fisika Modern:

dan ini saya suguhkan kunci jawabannya versi saya hehehe


Dan ga ketinggalan, saya juga sajikan kunci jawaban versi Pak Rusli (Pak Rusli emang jago bikin kita mikir super :p )




Cara Merumuskan Tujuan Pembelajaran yang Baik

Segala bentuk rancangan tujuan dapat membantu kita memfokuskan pikiran dan tindakan kita dalam menjalani kehidupan. Tujuan-tujuan ini bisa disebut dengan istilah-istilah lain, diantaranya aim, objectives outcomes, purpose, goals, dan mission.


Hierarki beberapa jenis tujuan berupa Objectives, Goals, dan Mission yang ada dalam literatur asesmen (sumber: UCONN Education)


 Perbedaan mendasar pada Outcomes, Goals dan Mission (sumber: UCONN Education)

Ketercapaian tujuan hanya dapat diukur jika memang memungkinkan untuk dapat diukur (measurable) Hal mendasar inilah yang menjadi perbedaan cara menggunakan istilah tujuan yang benar. 
Contoh kelemahan spesifikasi penggunaan istilah Goals dalam merumuskan tujuan (adaptasi dari UCONN Education)

Dalam banyak hal istilah Goals terlalu luas dan abstrak dalam mengukur hasil ketercapaian tujuan, maka dirasa sangat penting jika kita dapat mengubah bahasa Goals menjadi sejumlah tujuan belajar konkrit siswa yang dapat diukur, yaitu Objectives Outcome. Dalam bidang pendidikan khususnya, kita akan menggunakan istilah objective (tujuan) untuk menyebut hasil belajar siswa yang telah direncanakan dengan sengaja. Tujuan-tujuan yang dirumuskan akan mengarah pada pertanyaan utama “What should students know, understanding, and be able to do?” (Apa yang harus diketahui, dipahami, dan dapat dilakukan oleh siswa?) (Wiggins & Mc Tighe, 2005). Tujuan sangat penting dalam pengajaran,  sebab pengajaran merupakan tindakan yang disengaja dan beralasan (Anderson & Krathwohl, 2001).

Berikut hal-hal penting yang harus diketahui guru terkait asesmen (Popham, 2011):
  1. Asesmen dapat mendiagnosis kekuatan dan kelemahan siswa,
  2. Asesmen dapat memonitoring perkembangan siswa,
  3. Melalui asesmen guru dapat menetapkan nilai siswa,
  4. Melalui asesmen dapat diketahui efektivitas pembelajaran,
  5. Asesmen dapat menciptakan persepsi publik mengenai efektivitas pembelajaran,
  6. Asesmen dapat digunakan untuk mengevaluasi guru,
  7. Asesmen dapat mengklarifikasi tujuan pembelajaran guru.

Sebelum kita memulai bahasan bagaimana cara merumuskan tujuan pembelajaran yang baik, ada empat pertanyaan menyangkut masalah pendidikan, pengajaran,dan proses belajar yang menjadi dasar pijakan kita dalam merumuskan pembelajaran dalam sebuah taksonomi, diantaranya (Anderson & Krathwohl, 2001):
1.  Pertanyaan tentang tujuan pembelajaran: “Apa yang perlu dipelajari oleh siswa dari belajar di sekolah dan ruang kelas dalam waktu yang terbatas?”.
2. Pertanyaan tentang aktivitas: “ Bagaimanakah rencana dan pelaksanaan pembelajaran yang dapat menghasilkan level-level belajar yang tinggi bagi banyak siswa?”.
3. Pertanyaan tentang Asesmen: “Bagaimanakah guru memilih atau merancang instrumen-instrumen dan prosedur-prosedur asesmen yang meghasilkan informasi akurat mengenai seberapa bagus hasil belajar siswa?”.
4.  Pertanyaan tentang interelasi semua komponen pembelajaran: “Bagaimanakah guru yakin bahwa tujuan, aktivitas pembelajaran, dan asesmennya saling bersesuaian?

Tujuan pembelajaran dapat merefleksikan tingkatan belajar, yaitu penguasaan (mastery) dan pengembangan (development) pengetahuan. Penguasaan pengetahuan  umumnya fokus pada hal esensial yang harus dikuasai siswa agar dapat melanjutkan level pembelajaran selanjutnya. Sementara Pengembangan terfokus pada hasil pembelajaran yang lebih kompleks dimana siswa diharpkan dapat menerapkan pengetahuan yang mereka miliki pada berbagai tingkatan yang berbeda.


Taksonomi merupakan sebuah kerangka pikir khusus. Dalam pendidikan khususnya, taksonomi dapat digunakan pengajar dalam membuat rumusan tujuan, aktivitas, dan asesmen pembelajaran. Taksonomi yang dikembangkan oleh Bloom sekitar 50 tahun yang lalu  (unrevisied vesion) hanya memuat satu dimensi pengetahuan saja, yaitu proses kognitif, yang terdiri dari Pengetahuan, Pemahaman, Aplikasi, Analisis, Sintesis, dan Evaluasi. Sedangkan pada taksonomi Bloom revisi yang dikembangkan oleh Anderson (2001) memuat dua dimensi pengetahuan, yaitu dimensi proses kognitif dan dimensi pengetahuan. Dimensi proses kognitif terdiri dari Mengingat, Memahami, Mengaplikasi, Menganalisis, Mengevaluasi, dan Mencipta. Sementara dimensi pengetahuan terdiri dari Pengetahuan Faktual, Pengetahuan Konseptual, Pengetahuan Prosedural, dan Pengetahuan Metakognitif. Interelasi kedua dimensi ini kemudian kita sebuat dengan taksonomi Anderson.

Interelasi kognitif taksonomi Anderson (2001)

Kategorisasi proses kognitif dan dimensi pengetahuan pada Taksonomi Anderson (2001)

Enam proses kognitif yang terdapat dalam taksonomi Anderson dapat membantu guru untuk merumuskan tujuan pembelajaran. Berikut kategori-kategori dalam dimensi proses kognitif:
1.    Mengingat
Mengingat merupakan menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang. Mengingat merupakan proses kognitif yang paling rendah tingkatannya. Untuk mengkondisikan agar “mengingat” bisa menjadi bagian belajar bermakna, tugas mengingat hendaknya selalu dikaitkan dengan aspek pengetahuan yang lebih luas dan bukan sebagai suatu yang lepas dan terisolasi. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: mengenali (recognizing) dan mengingat (recalling).
1.1 Mengenali (Recognizing): mencakup proses kognitif untuk menarik kembali
informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang agar dapat membandingkan dengan informasi yang baru. Contoh: siswa dapat menyebutkan nama alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur diameter kelereng.
1.2 Mengingat (Recalling): menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dengan menggunakan petunjuk yang ada. Contoh: Pada saat disajikan mendefinisikan bunyi Hukum Newton II.
2.    Memahami
Mengkonstruk makna atau pengertian berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki, atau mengintegrasikan pengetahuan yang baru ke dalam skema yang telah ada dalam pemikiran siswa. Kategori memahami mencakup tujuh proses kognitif: menafsirkan (interpreting), memberikan contoh (exemplifying), mengkelasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing), menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining).
2.1 Menafsirkan (Interpreting): Menafsirkan dapat dengan mengubah dari satu bentuk informasi ke bentuk informasi yang lainnya, misalnya dari dari kata-kata ke grafik atau gambar, atau sebaliknya, dari kata-kata ke angka, atau sebaliknya, maupun dari kata-kata ke kata-kata, misalnya meringkas atau membuat parafrase. Contoh: Membuat grafik berdasarkan data  percobaan.
2.2 Memberikan contoh (Exemplifying): Memberikan contoh menuntut kemampuan mengidentifikasi ciri khas suatu konsep dan selanjutnya menggunakan ciri tersebut untuk membuat contoh. Contoh: Siswa dapat memberikan contoh benda-benda yang mengalami perlambatan.
2.3 Mengklasifikasikan (Classifying): Mengenali bahwa sesuatu (benda atau fenomena) masuk dalam kategori tertentu. Termasuk dalam kemampuan mengkelasifikasikan adalah mengenali ciri-ciri yang dimiliki suatu benda atau fenomena. Contoh: pada saat disajikan beberapa grafik kinematika, siswa diminta menentukan jenis gerak yang sesuai.
2.4 Meringkas (Summarizing): membuat suatu pernyataan yang mewakili seluruh informasi atau membuat suatu abstrak dari sebuat tulisan. Meringkas menuntut siswa untuk memilih inti dari suatu informasi dan meringkasnya. Contoh: Meringkas sebuah laporan penelitian terbaru mengenai hukum kekekalan energi mekanik.
2.5 Menarik inferensi (Inferring): menemukan suatu pola dari sederetan contoh atau fakta. Contoh: memprediksikan perkembangan suatu populasi dalam sebuah komunitas berdasarkan data perkembangan populasi selama 10 tahun terakhir.
2.6 Membandingkan (Comparing): mendeteksi persamaan dan perbedaan yang dimiliki dua obyek atau lebih. Contoh: membandingkan Gerak Lurus Beraturan (GLB) dan Gerak Melingkar Beraturan (GMB).
2.7 Menjelaskan (Explaining): mengkonstruk dan menggunakan model sebab-akibat dalam suatu system. Contoh: menjelaskan penggunaan lampu pijar pada siang hari akan mengurasi efisiensi energi.
3.    Mengaplikasikan
Mengaplikasikan mencakup penggunaan suatu prosedur guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas. Oleh karena itu mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan prosedural. Namun tidak berarti bahwa kategori ini hanya sesuai untuk pengetahuan prosedural saja. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: menjalankan (executing) dan mengimplementasikan (implementing).
3.1 Menjalankan (Executing): menjalankan suatu prosedur rutin yang telah dipelajari sebelumnya. Langkah-langkah yang diperlukan sudah tertentu dan juga dalam urutan tertentu. Apabila langkah-langkah tersebut benar, maka hasilnya sudah tertentu pula. Contoh: menghitung jumlah gamet dengan 2, 6, dan 17 sifat beda.
3.2 Mengimplementasikan (Implementing): memilih dan menggunakan prosedur yang sesuai untuk menyelesaikan tugas yang baru. Contoh: Setelah menentukan besar konstanta pegas melalui percobaan, siswa dapat menentukan besarnya nilai konstanta pengganti pada suatu rangkaian pegas campuran.
4.    Menganalisis
Mengalisis dapat berupa menguraikan suatu permasalahan atau obyek ke unsur-unsurnya dan menentukan bagaimana saling keterkaitan antar unsur-unsur tersebut. Ada tiga macam proses kognitif yang tercakup dalam menganalisis: menguraikan (differentiating), mengorganisir (organizing), dan menemukan pesan tersirat (attributting).
4.1 Menguraikan (differentiating): menguraikan suatu struktur dalam bagian-bagian berdasarkan relevansi, fungsi dan penting tidaknya. Contoh: Siswa dapat menguraikan komponen-komponen gaya yang bekerja pada sebuah balok yang berada pada bidang miring.
4.2 Mengorganisir (organizing): mengidentifikasi unsur-unsur suatu keadaan dan mengenali bagaimana unsur-unsur tersebut terkait satu sama lain untuk membentuk suatu struktur yang padu. Contoh: Siswa dapat mengorganisir bagian-bagian dari motor listrik.
4.3 Menemukan pesan tersirat (attributting): menemukan sudut pandang, bias, dan tujuan dari suatu bentuk komunikasi. Contoh: Siswa dapat mengatribusikan perkembangan motor listrik yang dikembangkan oleh Ampere dan Faraday.
5.    Mengevaluasi
Membuat suatu pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar yang ada. Ada dua macam proses kognitif yang tercakup dalam kategori ini: memeriksa (checking) dan mengritik (critiquing).
5.1 Memeriksa (Checking): Menguji konsistensi atau kekurangan suatu karya
berdasarkan kriteria internal (kriteria yang melekat dengan sifat produk tersebut).
Contoh: Memeriksa apakah kesimpulan yang ditarik telah sesuai dengan data yang ada.
5.2 Mengritik (Critiquing): menilai suatu karya baik kelebihan maupun
kekurangannya, berdasarkan kriteria eksternal. Contoh: menilai apakah rumusan
hipotesis sesuai atau tidak (sesuai atau tidaknya rumusan hipotesis dipengaruhi
oleh pengetahuan dan cara pandang penilai).
6.    Mencipta
Menggabungkan beberapa unsur menjadi suatu bentuk kesatuan. Ada tiga macam proses kognitif yang tergolong dalam kategori ini, yaitu: membuat (generating), merencanakan (planning), dan memproduksi (producing).
6.1 Membuat (Generating): menguraikan suatu masalah sehingga dapat dirumuskan berbagai kemungkinan hipotesis yang mengarah pada pemecahan masalah tersebut. Contoh: merumuskan hipotesis untuk memecahkan permasalahan yang terjadi berdasarkan pengamatan di lapangan.
6.2 Merencanakan (Planning): merancang suatu metode atau strategi untuk memecahkan masalah. Contoh: merancang serangkaian percobaan untuk menguji
hipotesis yang telah dirumuskan.
6.3 Memproduksi (Producing): membuat suatu rancangan atau menjalankan suatu rencana untuk memecahkan masalah. Contoh: mendesain (atau juga membuat) suatu alat yang akan digunakan untuk melakukan percobaan.

Asesmen  terhadap tujuan-tujuan pembelajaran dari dimensi pengetahuan berupa Pengetahuan Faktual, Konseptual, Prosedural, dan Metakognitif tidak akan terpisahkan dari dimensi proses kognitif. Untuk itu kita perlu menyertakan bagaimana pengetahuan-pengetahuan tersebut dapat digunakan dengan beragam proses kognitif.

Perumusan Tujuan
Sebuah rumusan tujuan pembelajaran, sesuai dengan taksonomi yang dikembangkan Anderson, mengklasifikasikan tujuan-tujuan yang terdiri dari satu kata kerja dan satu kata benda. Kata kerja (verb) mendeskripsikan  jenis ‘perilaku’ yang ingin dikuasai siswa, sementara kata benda (noun) mendeskripsikan jenis ‘pengetahuan’ yang ingin dicapai. Contoh sebuah tujuan pembelajaran yang memuat dua dimensi pengetahuan yang jelas.
Ada dua alternatif cara dalam merumuskan tujuan pembelajaran, yaitu membuat rumusan pembelajaran dan kemudian memetakan ke dalam matriks, atau dapat juga memetakan tujuan yang ingin dicapai ke dalam matrik terlebih dahulu baru diikuti membuat rumusan pembelajaran secara rinci.

Berikut contoh perumusan tujuan yang diikuti pemetaan dalam matriks taksonomi: Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai adalah “Siswa dapat menggunakan Hukum Kekekalan Energi pada konteks yang tepat”. Kata ‘menggunakan’ merupakan kata lain dari mengiplementasi, dalam hal ini mengimplementasikan merupakan dimensi proses koginif level 03 (C3). Sementara ‘Hukum Kekekalan Energi’ merupakan jenis pengetahuan kontekstual. Kemudian kita sesuaikan dengan tabel Taksonomi pendidikan, maka tujuan pendidikan kita berada pada tanda yang diceklis merah

 Pernyataan tujuan pembelajaran (objectives) harus memiliki sifat yang dapat diukur (measurable) pada akhir pembelajaran, jika tidak maka guru tidak akan dapat menentukan keberhasilkan proses pembelajaran yang telah kita laksanakan. Asesmen adalah tonggak yang dapat memfasilitasi siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir mereka.

Untuk penjelasan lebih lengkap lagi mengenai taksonomi Anderson (Revisi Bloom), sebaiknya kamu kupas sendiri isi buku ini. Selain lebih tajam dan mendetail, kamu juga akan disuguhkan kasus-kasus sederhana yang dapat menambah wawasan kamu sebagai seorang calon instruktur. Dan lebih mudahnya lagi, sekarang bukunya sudah terbit dalam bahasa Indonesia (2001-2010 merupakan waktu yang panjang untuk bisa menikmati buku ini dalam bahasa Indonesia). Bisa dibilang ini buku wajibnya anak pendidikan. Selamat membaca!


Sumber:
  1. Anderson, W., L. Krathwohl (Editor),  (2010). Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asessmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  2. Wiggins, G., & McTighe, J. (2005). Understanding by Design (2nd ed.). Alexandria, VA: Association for Supervision and Curriculum Development.
  3. UCONN. (tanpa tahun).  Asessment Primer: Goals, Objectives and Outcomes. [Online]. Tersedia:  http://www.assessment.uconn.edu/primer/goals1.html  (diakses pada tanggal 25 April 2014, pukul: 09.17 WIB).
  4. UCONN. (tanpa tahun).  Asessment Primer: Writing Instructional Objectives. [Online]. Tersedia:  http://www.assessment.uconn.edu/primer/objectives1.html  (diakses pada tanggal 25 April 2014, pukul: 17.04 WIB).


Pentingnya Asesmen dalam Pembelajaran

Esensi mengajar dan mengases (sumber: http://www.assessment.uconn.edu/why/index.html )

Dewasa ini, tugas seorang guru tidak hanya mengajar (transfer of knowledge) dan mendidik (transfer of value) yang baik, namun guru juga harus terampil dalam hal mengases. Masalahnya adalah seringkali orang mencampuradukkan pengertian antara evaluasi, asesmen, pengukuran (measurement), asesmen, dan tes. Padahal keempat hal ini memilik pengertian yang berbeda. Evaluasi merupakan kegiatan identifikasi untuk melihat ketercapaian/keberhargaan/keefektifan suatu program. Evaluasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan informasi dari hasil asesmen, pertimbangan dan keputusan nilai (value judgement). Makin banyak informasi yang kita ambil dari hasil asesmen, maka kita akan lebih fair dalam mengambil keputusan. Asesmen merupakan penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam perangkat/alat untuk memperoleh informasi proses dan hasil belajar. Hal krusial dalam mengases, diantaranya: 1) menekankan pada proses dan hasil belajar, 2) dilaksanakan selama pembelajaran, 3) berpihak pada yang diases untuk mengembangkan potensi, dan 4) terkait dengan pencapaian kurikulum. Pengukuran (measurement) lebih ditujukan untuk mendapat informasi secara kuantitatif mengenai karakteristik sesuatu/seseorang menggunakan lembar observasi atau skala penilaian dengan mengacu pada proses dan skor yang diperoleh.  Tes adalah salah satu perangkat/alat berisikan serangkaian pertanyaan standar/baku yang digunakan untuk menguji keberhasilan siswa dalam pembelajaran.

Hubungan antara evaluasi, asesmen, pengukuran, dan tes dapat ditunjukkan dalam diagram berikut:
Interelasi antara Evaluasi, Asesmen, Pengukuran, dan Tes


Makin besar irisan antara evaluasi dan asesmen menunjukkan bahwa data asesmen sudah dikenai judgement, sehingga data-data asesmen dapat digunakan sebagai hasil evaluasi.

Ketepatan prosedur dan kualitas alat ukur menentukan kualitas informasi yang diperoleh. Untuk itu kita perlu berhati-hati dalam menentukan, memilih, dan menyusun alat ukur untuk mengumpulkan sejumlah informasi yang diperlukan dalam ranngka mengambil keputusan. Penggunaan perangkat tes memberikan cara baru dalam mengases dan mengevaluasi pemahaman ataupun penguasaan konsep siswa.

Dalam sebuah Koferensi Asosiasi Psikolog Amerika pada awal tahun 1950-an, Bloom dan kawan-kawannya mengemukakan evaluasi hasil belajar yang mengungkap bahwa kebanyakan butir-butir soal yang digunakan guru hanya meminta siswa untuk menggunakan kemampuan hafalan mereka (Utari, 2013). Akhirnya pada tahun 1956, Bloom, Englehart, Furst, Hill, dan Krathwohl mengenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang dinamakan Bloom’s Taxonomy. Kerangka ini merupakan struktur hierarki yang mengidentifikasikan skills mulai dari tingkat yang terendah hingga yang tertinggi. Dalam kerangka konsep ini, tujuan pendidikan dibagi dalam tiga domain utama, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Ranah kognitif mengurutkan kemampuan berpikir sesuai dengan tujuan yang diharapkan, diantaranya: (1) Pengetahuan (Knowledge), (2) Pemahaman (Comprehension), (3) Aplikasi (Application), (4) Analisis (Analysis), (5) Sintesis (Synthesis), dan (6) Evaluasi (Evaluation). Menurut Bloom, hafalan sebenarnya merupakan level terendah dalam hierarki kemampuan berpikir (thinking behaviors). Masih banyak level lain yang lebih tinggi yang dapat dicapai siswa dan kemampuan berpikir ini harus dapat diukur sejauh mana ketercapaiannya

Sepanjang tahun 1990-an, seorang murid Bloom, Lorin Andreson, dan beberapa para ahli psikologi alirasn kognitivisme berusaha memperbaiki taksonomi Bloom agar relevan dengan kebutuhan siswa dan guru pada abad 21 (21’st century skills). Taksonomi yang baru akan dirancang sedemikian rupa sehingga dapat merepresentasikan psikologis kognisi, penelitian pendidikan, dan spesialisasi pengujian dan asesmen (Anderson & Krathwohl, 2001). Pada 2001 mereka menuntaskan rancangan mereka yang memuat beberapa perubahan signifikan. Diantaranya: (1) Perubahan terjadi pada perubahan kata kunci setiap level kognitif dari kata benda menjadi kata kerja, (2) Sintesis yang sebelumnya berada pada level 5  pada taksonomi Bloom lama dinaikkan menjadi level 6 dengan perubahan kata benda (noun) menjadi kata kerja (verb)à Mencipta, (3) Evaluasi yang sebelumnya berada pada level 6 pada taksonomi Bloom lama diturunkan menjadi level 5 dengan perubahan kata benda (noun) menjadi kata kerja (verb) Mengevaluasi.

Perubahan terminilogi taksonomi

Umumnya rumusan tujuan pembelajaran dan asesmen hanya menekankan satu jenis proses kognitif saja, yaitu mengingat. Dimana proses kognitif ini merupakan level terendah dari proses kognitif yang ada (Anderson & Krathwohl, 2001). Dari titik ini disadari pentingnya interelasi yang kuat antara rumusan tujuan, aktivitas dan asesmen pembelajaran demi terwujudnya pembelajaran yang bermakna. Mempertegas kekompleksitasan tugas seorang guru yang tidak hanya bertugas seorang sebagai pendidik dan pengajar namun juga harus dapat menjadi seorang asesor yang baik. Keterampilan membuat perangkat tes konsep yang sesuai dengan rumusan tujuan, aktivitas, dan asesmen pembelajaran akan diikuti dengan keefektifitasan pengajaran guru (teacher’s instructional effectiveness).


Sumber:
  1. Anderson, W., L. Krathwohl (Editor),  (2010). Kerangka Landasan Untuk Pembelajaran,Pengajaran, dan  Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
  2. Rustaman, N. Y.  (2009). Evaluation in Science Education (bahan ajar).  Bandung: tidak diterbitkan, dipakai dalam lingkungan UPI.
  3. UCONN. (tanpa tahun). Why Assesment?. [Online]. Tersedia:  http://www.assessment.uconn.edu/why/index.html (diakses pada tanggal 23 April 2014, pukul: 20.19 WIB).
  4. Utari, R. (2013). TAKSONOMI BLOOM: Apa dan Bagaimana Menggunakannya?. [Online]. Tersedia:http://www.bppk.depkeu.go.id/webpkn/index.php?option=com_content&view=article&id=766%3Ataksonomi-bloom-apa-dan-bagaimana-menggunakannya&catid=116%3Aisi-artikel&Itemid=1 (diakses pada tanggal 23 April 2014, pukul: 20.53 WIB).


Tuesday, March 18, 2014

BAGAIMANA JIKA BATERAI DISUSUN SERI DAN TERBALIK?


Pertanyaan: Jika baterai disusun seperti gambar disamping, bagaimanakah gerak elektron pada kawat penghantar yang menghubungkan kedua baterai tersebut? Bagaimanakah arah arus yang terjadi?




Dugaan Jawaban
Jika susunan baterai 3 V kita anggap positif, maka karena posisi baterai 1,5 terbalik besarnya potensial pada baterai 1,5 V kita negatifkan. Karena berlaku: 

Elektron akan berpindah dari sumber potensial yang memiliki keelektronegativan lebih besar. Di dalam kawat, elektron akan mengalir dari titik b menuju a. Jika baterai disusun seri (namun kutub positifnya bertemu), maka besarnya beda potensial yang bekerja merupakan selisih dari besar potensial tiap baterai. Arah arus konvensional dari rangkaian di atas ialah berlawanan dengan arah jarum jam.




-SF, Bandung, 19 Maret 2014-